Categories
Pusat

Tabur Tuai

Orang yang menabur kecurangan akan menuai bencana, dan tongkat amarahnya akan habis binasa. Orang yang baik hati akan diberkati, karena ia membagi rezekinya dengan si miskin” (Ams 22:8-9).

Di dalam pemahaman iman Kristen, hukum tabur tuai merupakan hal yang penting untuk di mengerti. Hukum tabur tuai memberikan pemahaman bahwa  apa yang dilakukan manusia hari ini, akan ia tuai di kemudian hari. Sebagai contoh: ketika kecil, kita ditanamkan oleh orang tua agar selalu berbuat kebaikan dan mengajak kita mendekatkan diri dengan Tuhan maka ketika anak itu menjadi besar maka ia dapat menjadi seorang yang takut akan Tuhan. 

Di jaman sekarang, orang tua banyak yang lalai dan lupa membawa anaknya mendekatkan diri kepada Tuhan. Tidak heran ketika anak itu menjadi dewasa maka ia dapat menjadi anak yang liar dan tidak peduli dengan kebenaran. Jadi apabila kita melihat seorang remaja begitu nakal dan kurang ajar maka kita perlu melihat bagaimanakah kehidupannya di keluarga. Apa yang diajarkan orang tua kepadanya? Apakah orang tua sudah memberikan teladan yang baik kepadanya sejak dari kecil?

Hukum tabur tuai tetap akan berlaku selama bumi ini masih ada. Hukum ini  berlaku selama manusia yang menabur itu hidup. Apabila manusia tersebut meninggal, maka tidak berlaku lagi hukum tersebut atasnya. Namun demikian, dampak dari hasil menabur dapat dialami oleh anggota keluarga yang meninggal. Mereka menuai dari apa yang ditabur dari yang meninggal, 

Alkitab mengatakan kunci menuai adalah menabur. Ini berarti setiap orang harus berhati-hati dan tidak sembarangan dengan apa yang ia tabur. Tabur hal yang jelek maka ia bisa mendapatkan sesuatu yang buruk. Oleh karena itu, mulailah menabur kebaikan dan menjauhi segala bentuk kejahatan yang merugikan orang lain dan diri sendiri. Bekerjalah dengan sungguh-sungguh, dan buang jauh-jauh rasa curiga, cemburu atau ingin menang sendiri. Menabur kebaikan dan menolong orang lain yang membutuhkan akan mendatangkan kebaikan juga.

Dengan demikian kita dapat mengerti bahwa hukum tabur tuai adalah segala sesuatu yang kita lakukan akan   membawa akibat. Alasannya adalah (1) Allah adalah Allah yang telah memberi kehendak pilihan bebas kepada manusia. Oleh sebab itu apa yang diterima “tergantung” di tangan manusia itu sendiri, (2) Allah adalah Allah yang adil sehingga dalam kenyataan hidup saat ini maka berlaku hukum tabur tuai. Orang yang bekerja keras pasti diberkati, tetapi yang malas tidak pantas diberkati.

Oleh karena itu manusia perlu berhati-hati dan bertanggung jawab atas setiap perbuatannya. Selama hidupnya ia berada di medan pergumulan antara memilih yang jahat atau yang baik. Keberuntungan atau kemalangan. Kehidupan atau kebinasaan. Oleh sebab itu janganlah menjadi orang yang bodoh, tetapi milikilah hikmat. (am).

Categories
Pusat

Jangan Menjadi Sahabat Dunia

Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah (Yak 4:4).

Yakobus mengingatkan kepada orang-orang Yahudi Kristen yang ada di perantauan untuk mereka tidak menjadi sahabat dari dunia ini. Menjadi sahabat dunia berarti memiliki kehidupan yang sama dengan orang-orang yang tidak mengenal Allah atau kehidupan dalam dosa. Yakobus menekankan kehidupan dalam dosa merupakan permusuhan dengan Allah. Hal ini dikarenakan Allah adalah Allah yang kudus sehingga tidak dapat bersatu dengan dosa. Jadi manusia yang mau menjadi pengikut-Nya tidak akan bisa menjadi pengikut dunia juga. Manusia harus memilih dengan siapa ia bersahabat. Allah atau dunia.

Yakobus mengambarkan orang yang menjadi sahabat dunia sebagai orang yang tidak setia. Kata “setia” yang dipakai merujuk pada kondisi di Perjanjian Lama dimana orang Israel sebagai orang yang tidak setia kepada Allah. Mereka telah berubah setia dengan menyembah ilah-ilah lain dan melakukan tindakan-tindakan dosa. Bangsa Israel mencoba untuk melayani Allah sekaligus Baal. Oleh karena itu betapa Allah murka akan ketidaksetiaan mereka. Orang-orang Kristen yang dimaksudkan oleh Yakobus adalah mereka yang ingin berhasil dan mendapatkan kedudukan yang tinggi di masyarakat, tetapi secara bersamaan mereka adalah para pengikut Yesus. Bukan berarti mereka tidak boleh menjadi berhasil namun penekanannya adalah siapakah yang lebih utama antara Tuhan dengan jabatan yang mereka miliki. Ia tidak boleh kompromi dengan dunia untuk mendapatkan keberhasilan.

Untuk itulah kita perlu berhati-hati memilih “sahabat”. Seorang yang memiliki sahabat maka sahabat tersebut dapat memengaruhinya dalam hal pikiran, perkataan dan tindakan. Apabila ia menjadi sahabat Allah maka ia tidak membiarkan pandangan dan falsafah dunia memengaruhinya. Ia tidak akan mengorbankan kebenaran namun menjadi pelaku kebenaran. Ia akan membenci dosa. Ia akan menjadi pelaku firman yang setia.

Persahabatan dengan Allah harus terus dibangun dan dijaga. Untuk itulah kita perlu memiliki hubungan pribadi yang baik dengan Allah. Melalui waktu teduh tiap-tiap hari, setia berdoa dan membaca firman Tuhan, serta hidup yang dipimpin Roh Kudus akan membantu kita semakin serupa dengan-Nya. Semakin dekat dengan-Nya membuat kita akan semakin memiliki hidup yang jauh dari dosa. Mari kita menjadi pengikut Kristus yang setia. (am).

Categories
Pusat

Setengah Hati

(2 Raja – raja 3:1-5)

Mengikut Tuhan harus sepenuh hati dan jangan setengah hati. Tuhan tidak menginginkan umat-Nya setengah hati mengikuti-Nya. Sepenuh hati artinya penuh kesungguhan menjalankan perintah dan kehendak Tuhan.

 Sebagai contoh orang yang setengah hati mengikut Tuhan adalah Raja Yoram.

Setelah kematian Ahazia, maka saudaranya, yaitu Yoram anak Ahab menjadi raja. Raja Yoram menyingkirkan tugu berhala Baal yang didirikan oleh ayahnya. Namun demikian dia masih tetap seperti Yerobeam, tidak mengizinkan orang Israel beribadah kepada Allah dengan benar. Yerobeam melarang Israel untuk beribadah di Yerusalem dengan membangun tempat ibadah di kota Dan dan di Betel. Ia membuat juga kuil-kuil di atas bukit-bukit pengorbanan untuk menyembah jin-jin, dan mengangkat imam-imam dari kalangan rakyat yang bukan dari bani Lewi.

Kesalahan Yerobeam dan Yoram sama. Mereka telah merancang tata cara ibadah yang tidak sesuai dengan yang Tuhan kehendaki. Oleh karenanya sebagaimana Yerobeam jatuh ke dalam dosa penyembahan berhala demikian pula Yoram. Disini terlihat Yoram dengan setengah hati menjalankan perintah Tuhan. Menyingkirkan tugu berhala Baal namun beribadah dengan caranya sendiri bukan cara Allah.

Ketidak seriusan menjalankan perintah Tuhan terlihat ketika Yoram berperang melawan Moab. Ia tidak meminta petunjuk Tuhan sebelum berperang. Ia menggunakan pemikirannya sendiri dalam membuat stetegi perang. Hal inilah yang membuat ia mengalami kesulitan melawan Moab. Walaupun dibantu oleh Raja Yosafat dan Raja Edom namun mereka tetap mengalami kesulitan.

Sejauh manakah sebagai Murid Kristus kita menjadi pengikut-Nya? Apakah kita sudah sepenuh hati atau setengah hati? Apabila setengah hati maka akan terlihat ketika kita banyak meragukan pimpinan Tuhan. Kita berjalan dengan hikmat dan kepintaran kita sendiri. Mengikut Tuhan harus sepenuh hati. Oleh karena itu mari kita belajar semakin mengenal Tuhan. Semakin mengenal firman-Nya supaya tidak salah jalan. Di awal tahun 2020, mari kita kembali menata hidup kita agar sesuai dengan firman Tuhan. (am)

Categories
Pusat

Persembahan Hati

(1 Sam 15:20-23)

Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan (ay. 22b).

Setiap kali mengikuti ibadah, kita diberi kesempatan untuk memberikan persembahan. Ketika kantong persembahan diedarkan, berapakah jumlah uang yang kita masukkan? Apakah dengan memasukkan uang dengan jumlah yang besar akan membuat Tuhan pasti senang?

Apabila kita melihat peristiwa yang terjadi dengan Raja Saul maka kita melihat bahwa Tuhan memandang kesungguhan mendengar suara Tuhan, memperhatikan setiap firman-Nya dan taat melakukan apa yang Tuhan kehendaki merupakan hal yang terpenting bagi setiap umat-Nya.

Saul berhasil menang perang melawan bangsa Amalek. Ia berhasil menumpas semua orang Amalek. Namun ia tidak melakukannya terhadap Raja Agag, raja bangsa Amalek. Ia menangkapnya hidup-hidup. Ia pun tidak membunuh semua hewan yang ada bersama dengan bangsa Amalek. Hewan-hewan yang terbaik tidak dibunuhnya. Ia berencana memberikan hewan-hewan tersebut sebagai persembahan bagi Tuhan. Sepertinya apa yang dilakukan Saul itu baik karena ia ingin memberikan persembahan korban yang terbaik kepada Tuhan. Namun apakah Tuhan senang dengan persembahannya?

Sebelum berperang, Tuhan sudah mengatakan kepada Saul bahwa Ia lah yang akan memimpin perperangan. Tuhan akan memberikan kemenangan kepada Saul dan bangsa Israel, namun Tuhan memberikan perintah untuk membunuh setiap orang dan setiap hewan yang ada. Perintah Tuhan sudah sangat jelas. Namun ternyata Saul tidak melakukan perintah Tuhan dengan baik. Hal inilah yang membuat Tuhan marah kepada-Nya dan menolak Saul sebagai raja.

Melalui peristiwa ini kita belajar bahwa sangat penting untuk taat akan perintah Tuhan. Untuk itulah kita perlu dengan sungguh-sungguh mendengarkan perintah Tuhan. Mendengar dan taat tidak boleh karena terpaksa namun menyadari bahwa setiap perintah Tuhan adalah yang terbaik.

Memasuki tahun 2020, marilah kita berkomitmen untuk belajar mendengarkan suara Tuhan, salah satunya melalui kotbah di dalam ibadah. Kita berikan hati kita sepenuhnya untuk mendengarkan Tuhan berbicara. Tuhan senang akan setiap kita yang mendengarkan dan memperhatikan dengan sungguh-sungguh ketika Ia berbicara. (am)

Categories
Pusat

Mewarnai Dunia

(Fil 1:27-30)

Hanya, hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus, supaya, apabila aku datang aku melihat, dan apabila aku tidak datang aku mendengar, bahwa kamu teguh berdiri dalam satu roh, dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari Berita Injil, (ay. 27).

Rasul Paulus menuliskan surat kepada jemaat Filipi ketia ia sedang berada di penjara. Dalam kondisi yang menekan namun Rasul Paulus tidak tertekan. Ia tetap dapat melihat pemeliharaan Tuhan atas dirinya sehingga ia mampu bersukacita di tengah pergumulan yang dihadapi.

Rasul Paulus bukannya meremehkan akan kondisi yang dihadapinya. Ia pun tahu bahwa kondisi yang dihadapi oleh Jemaat Filipi juga tidak dapat diremehkan. Pada waktu itu, mereka hidup di bawah tekanan dari orang-orang non Kristen. Bahkan bangsa Roma pun sangat tidak suka dengan mereka. Dalam kondisi demikian, sepertinya wajar apabila mereka mengalami ketakutan dan pada akhirnya mundur dari iman mereka. Namun Rasul Paulus tidak mau mereka melakukan hal tersebut. Ia mengingatkan akan identitas mereka sebagai orang Kristen. Oleh karena itu, mereka tidak boleh tergoda untuk meninggalkan iman. Sebagai orang Kristen, seharusnya memiliki komitmen yang kuat untuk tetap beriman kepada-Nya dan memiliki hidup yang berpadanan dengan Injil Kristus. Pada terjemahan lain, berpadanan dengan Injil Kristus adalah hidup yang layak bagi Injil. Artinya hidup mereka seharusnya mencerminkan Injil.

Hidup yang berpadanan dengan Injil diwujudkan dengan berdiri teguh dalam satu roh dan hidup dalam kesatuan. Secara nyata diwujudkan dalam kehidupan setiap orang percaya yang tidak goyah atas setiap tantangan yang ada dan dalam kehidupan bergereja, mereka memiliki kesatuan walaupun banyak perbedaan. Perbedaan tidak menjadi sumber perpecahan.

Lebih lanjut, Paulus mengingatkan mereka akan karunia yang didapat dari Kristus. Tidak hanya karunia percaya kepada-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat, namun juga karunia menderita untuk Dia (ay. 29). Kedua anugerah ini diberikan kepada setiap orang percaya. Paulus mencontohkan dirinya sebagai pengikut Kristus yang telah menerima kedua anugerah tersebut.

Menjelang akhir tahun 2019, kita kembali diingatkan apakah hidup kita sudah berpadanan dengan Injil? Kita memiliki warna yang berbeda dengan warna dunia yang sudah tercemar dosa. Sudahkan kita menunjukkan identitas kita sebagai pengikut Kristus yang sejati?(am)

Categories
Pusat

Terlibat Dalam Rencana Tuhan

(Luk 1:26-38)

Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia (ay. 38).

Satu hal yang mustahil apabila seorang perempuan yang masih perawan mengandung. Namun yang mustahil dapat menjadi kenyataan apabila Tuhan berkehendak. Hal inilah yang terjadi pada Maria. Malaikat Gabriel mengatakan bahwa Maria akan mengandung bayi padahal Maria belum bersuami. Tentu saja pernyataan ini membuat Maria heran. Baginya hal ini sangat tidak mungkin.

Disamping keheranan, Maria pun mengetahui konsekuensi apabila dirinya hamil padahal belum bersuami. Menurut Ulangan 22:23-24, seorang perempuan yang ketahuan hamil namun belum bersuami maka ia akan mendapatkan hukuman dengan cara dilempari batu sampai mati.

Namun apakah reaksi Maria ketika mendengar berita ini? Ia memilih untuk percaya perkataan Malaikat Gabriel dan siap untuk menanggung konsekuensi atas apa yang terjadi pada dirinya. Maria adalah seorang perempuan yang masih muda namun ia memiliki iman yang luar biasa. Ia percaya apa yang terjadi atas dirinya adalah rencana Allah. Oleh karena itulah Maria berkata, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”

Maria adalah seorang yang beriman. Iman terkadang membutuhkan penundukkan ratio. Ketika rencana Allah dinyatakan walaupun melampaui pemahaman, hendaknya kita mengingat akan kuasa Allah. Allah yang berkuasa dapat melakukan segala perkara. Oleh karena itu, kita perlu melatih hati kita untuk percaya kepada-Nya dalam segala keadaan.

Melalui iman dan ketaatan Maria, ia telah menjadi bagian dari rencana keselamatan Allah bagi manusia. Yesus Kristus lahir melalui rahim Maria. Yesus Kristuslah Sang Juruselamat yang hadir untuk memberikan pengampunan dosa dan keselamatan. Oleh karena itulah, mari kita percaya kepada-Nya. Ia-lah yang akan memberikan hidup kekal kepada kita. (am).

Categories
Pusat

Ketaatan Mendatangkan Keselamatan

(Fil 2:5-11)

Dan dalam keadaan sebagai manusia, ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib (ay. 8).

Jemaat Filipi menghadapi permasalahan dari luar dan dalam. Dari luar dengan adanya penganiayaan dan dari dalam dengan adanya perselisihan antar jemaat dan guru-guru palsu yang memberikan pengajaran yang salah. Oleh karena itulah, Rasul Paulus menuliskan surat penggembalaannya bagi mereka. Rasul Paulus menggunakan perbuatan Tuhan Yesus sebagai contoh dengan maksud supaya mereka meneladani-Nya.

Rasul Paulus memberikan nasehat supaya jemaat Filipi memiliki pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus. Tuhan Yesus telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Ia adalah Tuhan yang tidak terbatas namun Ia rela menjadi manusia yang terbatas. Hal ini dilakukan demi kasih-Nya kepada manusia. Namun tidak hanya sebagai manusia, Ia pun menurunkan lagi derajatnya dengan menyamakan diri-Nya sebagai hamba. Seorang hamba tidak mempunyai hak atas hidupnya sendiri. Oleh karenanya Ia rela menjalani jalan salib (via dolorosa). Semua dilakukan-Nya supaya manusia berdosa mendapatkan pengampunaan dosa dan keselamatan.

Ketaatan sampai di kayu salib dimulai dari ketaatan-Nya lahir sebagai manusia. Ia berinkarnasi menjadi manusia. Kelahiran-Nya menandakan belarasa Allah bagi manusia. Oleh karena itulah, Paulus meminta jemaat Filipi untuk tidak berseteru namun mau menyatakan kasih dan kepeduliaan kepada sesama.

Hari ini kita memasuki Minggu Adven 2. Tidak lama lagi kita akan bersama-sama beribadah dan merayakan Natal pada tanggal 24 dan 25 Desember. Apakah kita akan mengajak saudara atau rekan kita untuk hadir? Mari kita undang mereka hadir. Kita berdoa agar setiap yang hadir dapat mengalami keselamatan dari Allah. Mereka dapat mengalami natal yang sesungguhnya. (am)

Categories
Pusat

Natal Membawa Pengharapan

(Lukas 2:25-35)

Sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu (ay. 30).

Simeon adalah seorang yang sudah sangat tua namun ia masih hidup karena Tuhan bermurah hati kepada-Nya. Ia mendapatkan kemurahan untuk dapat melihat kegenapan dari janji Tuhan bagi bangsa Israel. Pengharapan akan janji hadirnya Juruselamat, yang tertumpu pada Yesus Kristus. Kelahiran Yesus Kristus adalah kegenapan dari janji keselamatan. Oleh karenanya, Simeon dengan sukacita memuji Allah.

Simeon sangat merindukan dan berharap akan penghiburan bagi Israel. Yang dimaksud penghiburan bagi Israel adalah kelepasan yang dilakukan oleh Mesias atas Yerusalem. Ia akan membebaskan umat-Nya dari belenggu dosa. Ia pula akan menjadi Juruselamat bagi bangsa-bangsa lain. Jangkauan keselamatan tidak hanya bagi orang Israel namun bagi setiap bangsa.

Simeon “hanya” melihat dan menatang Sang Juruselamat namun ia begitu bersukacita apalagi kita yang sudah melihat penggenapan keselamatan melalui kelahiran dan kematian Tuhan Yesus di kayu salib. Sukacita atas kasih Allah seharusnya mewarnai kehidupan kita. Untuk itu, kita tidak perlu meragukan akan kasih Allah yang besar atas hidup kita. Kita tidak perlu takut menghadapi masa depan karena kasih Allah bersama kita.

Natal membawa pengharapan bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya. Yang pertama, pengharapan keselamatan. Ketika percaya kepada Tuhan Yesus maka keselamatan dan jaminan hidup kekal diperoleh. Namun keselamatan itu belum sepenuhnyan diterima (already but not yet) dalam pengertian hidup kekal itu baru kita alami ketika sudah bersama Tuhan di surga. Yang kedua, pengharapan penyertaan Tuhan. Tuhan berjanji kepada setiap anak-anak-Nya bahwa Ia akan menyertai kehidupan mereka. Kita adalah anak Tuhan maka tentu janji-Nya akan Ia genapi.

Sesuai Kalender Gerejawi, Minggu ini kita memasuki MInggu Adven I. Artinya kita kembali diingatkan akan masa penantian kelahiran Tuhan Yesus. Biarlah melalui masa Adven ini kita semakin menyadari akan kasih Tuhan yang besar. Biarlah kita juga mau berbagi kasih kepada orang lain yang belum mengalami kasih Allah. (am)

Categories
Pusat

Digerakkan Oleh Belas Kasihan

Mat 14:13-21

Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakti (ay. 14).

Selama Tuhan Yesus di dunia, Ia melayani begitu banyak orang. Setiap kalanggan dengan status sosial mereka masing-masing, baik orang “benar” maupun orang yang berdosa, pria dan wanita, semuanya mengalami pelayanan dari-Nya. Ia sangat peduli kepada mereka sehingga Ia melakukan banyak perbuatan baik bagi mereka, antara lain: mengajarkan firman, menyembuhkan yang sakit dan memberi makan yang lapar. Firman Tuhan menjelaskan motivasi Ia melakukan semuanya adalah belas kasihan yang besar kepada mereka.

Pada ayat 14, kata belas kasihan mengandung arti perasaan yang sangat dalam terhadap orang lain. Akan terasa “sakit” apabila perasaan itu tidak diwujudkan. Perasaan belas kasihan inilah yang mewarnai pelayanan-Nya selama di dunia. Belas kasihan ini pula yang menghantar-Nya mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia. Sungguh kasih Allah sangat luar biasa.

Sebagai murid Kristus, tentu Tuhan Yesus pun menginginkan kita memiliki belas kasihan terhadap sesama kita. Sebagaimana kita telah mengalami kasih Allah yang besar maka kita pun seharusnya memiliki kerinduan supaya banyak orang mengalami kasih Allah. Kasih Allah dapat mereka alami ketika kita melakukan tindakan kasih bagi sesama. Dorongan belas kasihan menjadi penting di dalam setiap pelayanan dan perbuatan yang dilakukan. Tanpa belas kasihan maka perbuatan itu tidak akan tahan lama. Dengan belas kasihan, dalam setiap keadaan pun, perbuatan baik dapat dinyatakan.

Bulan Diakonia pada bulan ini mengingatkan kita akan pentingnya perasaan belas kasihan dalam kehidupan berjemaat dan bermasyarakat. Hal ini dapat terlihat ketika setiap anggota jemaat saling memperhatikan dan peduli akan setiap pergumulan mereka. Melalui program-program Bidang Diakonia seperti orang tua asuh, pengobatan gratis bagi masyarakat sekitar, donor darah, tim kedukaan (tim Dorkas), kita dapat menyatakan belas kasihan kepada sesama. Oleh karena itu, mari kita dukung dan terlibat aktif dalam setiap program yang ada. Biarlah melalui perbuatan yang kita lakukan menjadi kesaksian yang indah bagi setiap orang yang belum percaya. (am)

Categories
Pusat

Bukan Sekedar Slogan

1 Yohanes 3 : 11 – 18

Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran (ay 18)

Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan manusia lain agar dapat memiliki kehidupan yang lebih baik dan lebih menyenangkan. Manusia tidak dapat hidup sendirian. Jadi dibutuhkan relasi antar manusia. Untuk menjalin relasi yang kuat dan bermakna maka kasih dibutuhkan. Kasih adalah pengikatnya. Dengan kasih, relasi timbal balik dapat terjadi dengan baik. Hal ini terlihat bagaimana cara kita memperlakukan orang lain.

Kasih memang sering dikatakan dan dibicarakan. Namun seringkali tidak sampai dilakukan dalam tindakan nyata. Kondisi seperti inilah yang diingatkan Rasul Yohanes ketika ia menuliskan suratnya. Ia mengingatkan jemaat untuk tidak memiliki kasih yang pura-pura. Kasih harus dinyatakan dalam perbuatan dan dalam lingkup kebenaran. Pengertiannya adalah dasar kasih bukan dari diri sendiri melainkan dari Allah yang mengasihi. Kasih yang telah dinyatakan-Nya melalui kematian Kristus di kayu salib. Kasih Allah inilah yang menjadi dasar saling mengasihi.

Namun kenyataan yang terjadi adalah manusia sulit untuk mengasihi sesamanya secara sempurna. Sering terjadi kegagalan yang membawa kepada perselisihan dan perpecahan. Oleh karena itulah, kita perlu menyadari bahwa ketika melakukan tindakan kasih berdasarkan kekuatan diri sendiri maka akan menemukan kegagalan. Melakukan tindakan kasih harus berdasarkan kekuatan dari Roh Kudus yang tinggal dalam hati setiap orang percaya.

Di bulan Diakonia ini, kita kembali diingatkan akan kasih yang dinyatakan melalui tindakan nyata dan dalam kebenaran. Mari kita melihat Saudara-saudara kita seiman satu gereja, apakah kita sudah memperhatikan dan peduli akan pergumulan mereka? Sudahkan kita melakukan sesuatu yang baik bagi mereka? Tidak hanya dalam lingkup segereja, kita pun perlu menyatakan kasih dan kepeduliaan kita kepada orang-orang di sekitar kita yang dijumpai sehari-hari. Biarlah melalui tindakan kasih, dunia melihat kasih Kristus kepada mereka. (am)