Categories
Pusat

Setengah Hati

(2 Raja – raja 3:1-5)

Mengikut Tuhan harus sepenuh hati dan jangan setengah hati. Tuhan tidak menginginkan umat-Nya setengah hati mengikuti-Nya. Sepenuh hati artinya penuh kesungguhan menjalankan perintah dan kehendak Tuhan.

 Sebagai contoh orang yang setengah hati mengikut Tuhan adalah Raja Yoram.

Setelah kematian Ahazia, maka saudaranya, yaitu Yoram anak Ahab menjadi raja. Raja Yoram menyingkirkan tugu berhala Baal yang didirikan oleh ayahnya. Namun demikian dia masih tetap seperti Yerobeam, tidak mengizinkan orang Israel beribadah kepada Allah dengan benar. Yerobeam melarang Israel untuk beribadah di Yerusalem dengan membangun tempat ibadah di kota Dan dan di Betel. Ia membuat juga kuil-kuil di atas bukit-bukit pengorbanan untuk menyembah jin-jin, dan mengangkat imam-imam dari kalangan rakyat yang bukan dari bani Lewi.

Kesalahan Yerobeam dan Yoram sama. Mereka telah merancang tata cara ibadah yang tidak sesuai dengan yang Tuhan kehendaki. Oleh karenanya sebagaimana Yerobeam jatuh ke dalam dosa penyembahan berhala demikian pula Yoram. Disini terlihat Yoram dengan setengah hati menjalankan perintah Tuhan. Menyingkirkan tugu berhala Baal namun beribadah dengan caranya sendiri bukan cara Allah.

Ketidak seriusan menjalankan perintah Tuhan terlihat ketika Yoram berperang melawan Moab. Ia tidak meminta petunjuk Tuhan sebelum berperang. Ia menggunakan pemikirannya sendiri dalam membuat stetegi perang. Hal inilah yang membuat ia mengalami kesulitan melawan Moab. Walaupun dibantu oleh Raja Yosafat dan Raja Edom namun mereka tetap mengalami kesulitan.

Sejauh manakah sebagai Murid Kristus kita menjadi pengikut-Nya? Apakah kita sudah sepenuh hati atau setengah hati? Apabila setengah hati maka akan terlihat ketika kita banyak meragukan pimpinan Tuhan. Kita berjalan dengan hikmat dan kepintaran kita sendiri. Mengikut Tuhan harus sepenuh hati. Oleh karena itu mari kita belajar semakin mengenal Tuhan. Semakin mengenal firman-Nya supaya tidak salah jalan. Di awal tahun 2020, mari kita kembali menata hidup kita agar sesuai dengan firman Tuhan. (am)

Categories
Pusat

Persembahan Hati

(1 Sam 15:20-23)

Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan (ay. 22b).

Setiap kali mengikuti ibadah, kita diberi kesempatan untuk memberikan persembahan. Ketika kantong persembahan diedarkan, berapakah jumlah uang yang kita masukkan? Apakah dengan memasukkan uang dengan jumlah yang besar akan membuat Tuhan pasti senang?

Apabila kita melihat peristiwa yang terjadi dengan Raja Saul maka kita melihat bahwa Tuhan memandang kesungguhan mendengar suara Tuhan, memperhatikan setiap firman-Nya dan taat melakukan apa yang Tuhan kehendaki merupakan hal yang terpenting bagi setiap umat-Nya.

Saul berhasil menang perang melawan bangsa Amalek. Ia berhasil menumpas semua orang Amalek. Namun ia tidak melakukannya terhadap Raja Agag, raja bangsa Amalek. Ia menangkapnya hidup-hidup. Ia pun tidak membunuh semua hewan yang ada bersama dengan bangsa Amalek. Hewan-hewan yang terbaik tidak dibunuhnya. Ia berencana memberikan hewan-hewan tersebut sebagai persembahan bagi Tuhan. Sepertinya apa yang dilakukan Saul itu baik karena ia ingin memberikan persembahan korban yang terbaik kepada Tuhan. Namun apakah Tuhan senang dengan persembahannya?

Sebelum berperang, Tuhan sudah mengatakan kepada Saul bahwa Ia lah yang akan memimpin perperangan. Tuhan akan memberikan kemenangan kepada Saul dan bangsa Israel, namun Tuhan memberikan perintah untuk membunuh setiap orang dan setiap hewan yang ada. Perintah Tuhan sudah sangat jelas. Namun ternyata Saul tidak melakukan perintah Tuhan dengan baik. Hal inilah yang membuat Tuhan marah kepada-Nya dan menolak Saul sebagai raja.

Melalui peristiwa ini kita belajar bahwa sangat penting untuk taat akan perintah Tuhan. Untuk itulah kita perlu dengan sungguh-sungguh mendengarkan perintah Tuhan. Mendengar dan taat tidak boleh karena terpaksa namun menyadari bahwa setiap perintah Tuhan adalah yang terbaik.

Memasuki tahun 2020, marilah kita berkomitmen untuk belajar mendengarkan suara Tuhan, salah satunya melalui kotbah di dalam ibadah. Kita berikan hati kita sepenuhnya untuk mendengarkan Tuhan berbicara. Tuhan senang akan setiap kita yang mendengarkan dan memperhatikan dengan sungguh-sungguh ketika Ia berbicara. (am)

Categories
Pusat

Natal Membawa Pengharapan

(Lukas 2:25-35)

Sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu (ay. 30).

Simeon adalah seorang yang sudah sangat tua namun ia masih hidup karena Tuhan bermurah hati kepada-Nya. Ia mendapatkan kemurahan untuk dapat melihat kegenapan dari janji Tuhan bagi bangsa Israel. Pengharapan akan janji hadirnya Juruselamat, yang tertumpu pada Yesus Kristus. Kelahiran Yesus Kristus adalah kegenapan dari janji keselamatan. Oleh karenanya, Simeon dengan sukacita memuji Allah.

Simeon sangat merindukan dan berharap akan penghiburan bagi Israel. Yang dimaksud penghiburan bagi Israel adalah kelepasan yang dilakukan oleh Mesias atas Yerusalem. Ia akan membebaskan umat-Nya dari belenggu dosa. Ia pula akan menjadi Juruselamat bagi bangsa-bangsa lain. Jangkauan keselamatan tidak hanya bagi orang Israel namun bagi setiap bangsa.

Simeon “hanya” melihat dan menatang Sang Juruselamat namun ia begitu bersukacita apalagi kita yang sudah melihat penggenapan keselamatan melalui kelahiran dan kematian Tuhan Yesus di kayu salib. Sukacita atas kasih Allah seharusnya mewarnai kehidupan kita. Untuk itu, kita tidak perlu meragukan akan kasih Allah yang besar atas hidup kita. Kita tidak perlu takut menghadapi masa depan karena kasih Allah bersama kita.

Natal membawa pengharapan bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya. Yang pertama, pengharapan keselamatan. Ketika percaya kepada Tuhan Yesus maka keselamatan dan jaminan hidup kekal diperoleh. Namun keselamatan itu belum sepenuhnyan diterima (already but not yet) dalam pengertian hidup kekal itu baru kita alami ketika sudah bersama Tuhan di surga. Yang kedua, pengharapan penyertaan Tuhan. Tuhan berjanji kepada setiap anak-anak-Nya bahwa Ia akan menyertai kehidupan mereka. Kita adalah anak Tuhan maka tentu janji-Nya akan Ia genapi.

Sesuai Kalender Gerejawi, Minggu ini kita memasuki MInggu Adven I. Artinya kita kembali diingatkan akan masa penantian kelahiran Tuhan Yesus. Biarlah melalui masa Adven ini kita semakin menyadari akan kasih Tuhan yang besar. Biarlah kita juga mau berbagi kasih kepada orang lain yang belum mengalami kasih Allah. (am)